Traveling
merupakan hal yang paling menyenangkan, karena bisa melupakan sejenak semua
masalah yang ada. Untuk traveling kali
ini merupakan perjuangan tersendiri dari mau berangkat sampai ke lokasi tujuan.
Aku adalah tipe orang yang suka pergi kemanapun, tapi nakalnya jarang aku
cerita langsung ke ibu tempat mana yang akan menjadi tujuan traveling
ku..he..he..Maklum ibuku pasti tidak akan mengijinkan klo tempat yang
dikunjungi agak ekstrim dan bahaya.
Untuk
traveling kali ini janjian sama temen-temen kumpulnya malam pukul 18.30. Dan
rumahku menuju tempat kumpulnya lumayan jauh butuh waktu 30 menit an. Saat itu suasana lagi hujan juga, pastinya
klo ijin mo pergi ke Bromo di jamin tidak bakal dapat ijin. Aku sudah siap
dengan ransel dan pakaian rapi. Tinggal nunggu ibu untuk minta ijin pergi.
Waktu mau berangkat ibu belum selesai Shalat Magrib Jama’ah bersama bapak di
kamar. Aku nunggu sampil berharap cemas
karena sudah pukul 18.30 an posisi masih di rumah. Padahal kesepakatan kumpul
pukul 18.30. Pas ibu keluar langsung kucium tanganya dan bilang “bu aku pergi
ni tidak pulang, pulangnya besok sore mungkin” he.. he ..tanpa kujelaskan mau
pergi kemana. Langsung deh berangkat
Ternyata
hujannya lumayan lebat, jadi deh aku heboh dengan ransel ku gimana caranya biar
tidak basah. Klo badan sih dah pake mantel aman. Hmm ni ransel klo di taruh di
punggung trus langsung pake mantel tidak bakalan cukup,karena rensel ku lumayan
banyak barang bawaanya. Hampir 10 menit an cari cara gimana biar ransel tidak
basah. Alhamdullillah ada tas plastik lumayan besar punya adek yang masih
bertengger di sepeda motornya, karena keliatannya dia juga baru kehujanan.
Langsung aja kuambil dan ransel berhasil kumasukkan.
Hujannya
ternyata lumayan lebat mulai dari rumah sampai ke lokasi kumpul sama
teman-teman hujan terus. Dan malangnya sepeda motor ku keliatannya ada masalah
di ban motornya. Karena sehari sebelumnya bannya ada masalah, udah di periksa
di tukang tambal ban katanya tidak ada masalah. Padahal sempat di bongkar juga
bannya. Dalam hati cuma satu keinginanku saat itu, tiba di lokasi dengan
selamat. Aku kendarai motorku dengan
pelan-pelan, karena hujan lumayan deras juga. Perasaan udah tidak nyaman, tapi
klo aku berhenti ke tukang tambal ban untuk memeriksa, waktu sudah tidak cukup
untuk bisa on time tiba di lokasi. Berangkat dari rumah aja tadi sudah
terlambat.
Keliatannya
kondisi ban sepeda motor ku sudah lumayan parah, jadi tidak berani ngebut.
Waktu sudah hampir dekat di lokasi motorku mulai tidak seimbang karena
keliatannya kondisi bannya udah lumayan parah. Sebenarnya sebelumnya janjian
mau jemput teman dan sekalian nitip motor. Tapi karena kondisi sudah tidak
memungkinkan aku langsung menuju tempat kumpul saja. Alhamdulillah, akhirnya
sampai di tempat dengan selamat dan kondisi ban sepeda motorku dah bocor parah.
Langsung ku sms temanku bahwa aku tidak jadi ke rumahnya karena ban sepeda
motorku bocor.
Waktu
datang pukul 19.00 sudah telat banget, ternyata masih sedikit teman-teman yang
kumpul. Maklum hari itu hujan lumayan lebat, jadi teman-teman banyak yang
terlambat. Tidak beberapa lama akhirnya
teman-teman datang satu persatu. Karena mobilnya belum datang, jadi sambil nunggu teman-teman pada Shalat
Isya karena tadi aku juga belum Shalat Isya.
Alhamdulillah,
akhirnya mobil datang dan barang-barang di masukkan ke dalam mobil. Barang
bawaannya macam-macam ada termos air hangat juga dan pastinya masing-masing
bawa ransel yang berisi barang keperluan pribadi. Karena panitia salah hitung
peserta yang ikut, akhirnya ada 2 kursi yang di duduki untuk 3 orang. Mau
gimana lagi sudah pada kumpul tidak mungkin di batalkan kasihan. Akhirnya aku
rela sama 3 temenku ,2 kursi di duduki untuk 3 orang. Aku kasihan juga pada
temanku, karena ternyata dia kondisinya lagi tidak enak badan dan harus duduk
berhimpitan.
Sebelum
berangkat semua berdoa semoga perjalanan lancar dan selamat sampai tujuan.
Sekitar pukul 21.00 kami mulai berangkat dan kondisi masih hujan. Baru kali ini
mau mendaki (hiking) tapi kondisi hujan. Sepanjang perjalanan kondisi masih
tetap hujan dan hawa dingin mulai merasuk ke tulang-tulang, karena ternyata
sudah masuk area perkampungan menuju ke bromo. Sekitar pukul 03.00 kami semua
tiba dengan selamat. Karena kondisi masih sangat pagi kita tidur dulu di dalam
mobil sambil nunggu temen-temen nego
harga hartop. Karena mobil tidak bisa naik langsung ke bromo, kita harus
sewa hartop untuk bisa menuju ke bromo.
Untuk
ikut rombongan traveling ini peserta cukup bayar Rp. 75.000,-/orang lumayan
murah. Karena panitia tidak memperkirakan memakai hartop untuk menuju bromo,
jadi kita harus iuran lagi Rp. 50.000,-/orang untuk sewa hartop. Kita sewa 2
(dua) hartop karena tidak cukup kalo pake 1 (satu) hartop.
Udara
dingin sekali, karena sudah memasuki area menuju Bromo. Jangan di tanya gimana dinginnya air kamar
mandi. Sebelum perjalanan di mulai menuju pendakian temen-teman ke kamar mandi
dulu. Klo mau ke kamar mandi cukup bayar Rp. 2000,-/ orang.
Karena
jumlah peserta banyak sekitar 16 orang, mobil hartop di bagi dua, untuk
laki-laki dan perempuan. Kami mulai mencari posisi yang nyaman untuk duduk.
Karena cuaca tidak menentu dan cenderung hujan, akhirnya kami memutuskan bawa
mantel (jas hujan) untuk persiapan jika nanti hujan saat pendakian. Pertama
yang kita kunjungi ‘penanjakan’ baru ke kawah bromo selanjutnya. Mobil Hartop
mulai berjalan menuju penanjakan dengan jalan yang berkelok-kelok. Karena
suasana masih pagi buta sekitar pukul 04.00, sehingga kami tidak bisa melihat
jelas kanan-kiri jalan.
Mobil
hartop mulai berhenti untuk parkir, karena tidak mungkin lagi menuju ke atas.
Karena di luar hujan teman-teman masih agak malas untuk turun. Sehingga kami
memutuskan untuk Shalat Subuh berjama’ah dulu di dalam mobil dengan tayamum
sebelum mulai pendakian. Setelah selesai Shalat kami semua turun satu persatu
dengan memakai jas hujan, karena di luar kondisi hujan.
Baru
kali ini mendaki gunung kondisi hujan dan kita semua harus memakai mantel. Bisa
buat pangalaman klo mau traveling mendaki gunung (hiking) lihat kondisi alam.
Karena klo hujan jadi tidak nyaman dan rawan untuk mendaki. Kami jalan bersama
rombongan dengan pelan-pelan, karena kondisi jalan becek dan licin. Subhanallah baru jalan berapa langkah saja
rasanya saya sudah tidak bisa nafas (sesak).
Akhirnya saya berhenti sejenak dan jalan pelan-pelan untuk melanjutkan
pendakian. Saya pikir saya saja yang merasa sesak nafas, ternyata ada juga
teman yang sesak. Mungkin karena dinginnya udara dan semakin tinggi oksigen
semakin tipis. Sehingga menyebabkan sesak nafas. Baru jalan beberapa langkah
teman teriak “hei berhenti” pelan-palan jalannya. He..he.. kapan sampainya baru
dapat 2-4 langkah berhenti.
Karena
kondisi jalan masih gelap dan hujan kita tidak bisa melihat dan menikmati
pemandangan sekitar. Ketika sudah berada di posisi agak atas dan hari sudah
mulai terang, mulai terlihat pemandangan di kanan-kiri. Mulai dah narsisnya
cepret sana cepret sini untuk mengabadikan gambar. Tujuan pertama kita di
penanjakan untuk melihat matahari terbit (sunrise), t karena hujan tidak
terlihat matahari sama sekali. Katanya klo sudah mendung dan hujan sampai jam
12 siang pun matahari tidak akan muncul. Traveling ke bromo kali ini merupakan
kunjungan ke-2 saya. Waktu yang pertama tidak sempat ke penanjakan, langsung ke
kawah bromonya. Makanya untuk kali ini pengen naik sampai atas. Tapi karena
teman-teman sudah merasa capek dan yang di lihat sama aja pemandangannya,
akhirnya semua memutuskan turun kembali. Hmm sebenarnya agak nyesel juga karena
tidak menyelesaikan pendakian sampai selesai.
Kami
semua memutuskan untuk kembali ke mobil menuju ke kawah bromo. Hari sudah mulai
terang jadi terlihat pemandangan kanan kiri jalan. Ternyata hampir semua mata pencaharian penduduk sekitar bromo
adalah pentani sayur. Ketika sudah tiba di tempat parkiran mobil harus di
parkir. Subhanallah pemandangannya sungguh indah, terbentang luas padang pasir,
gunung dan bukit. Sebelum memutuskan untuk naik ke kawah bromo, kita mengisi
bahan bakar dulu untuk tenaga alias “sarapan”, yang di bawa panitia dari
Kediri. Setelah selesai sarapan kita turun dan menikmati pemandangan padang
pasir yang terbentang luas. Sebetulnya hujan ada hikmahnya juga jadi pasirnya
basah sehingga tidak begitu ada banyak debu. Tapi meskipun pasirnya basah, waktu
di terjang angin masih berhampuran juga pasirnya. Jadi ketika ada angin yang
kencang kita berhenti sejenak dan menutup mata biar tidak terkena debu pasir.
Bener-bener
indah dan keren pemandanganya, sepanjang perjalanan terlihat semua pemandangan
dan bentuk asli jalan yang berkelok-kelok menuju kawah bromo. Waktu pendakian
saya yang pertama jalan tidak terlihat sama sekali karena kondisi masih gelap.
Klo yang ini terlihat jelas kelokan jalan yang harus kita lalui untuk menuju
puncak atas kawah bromo.
Alhamdulillah
selama pendakian masih menggunakan tenaga alami (jalan kaki) belum menggunakan
bantuan kuda untuk mendaki. Karena waktu pendakian pertama memutuskan untuk
naik kuda setelah jalan 10 menit an. Setelah turun dari kuda mau pingsan juga
karena kaki seperti terkilir, jadi bikin heboh teman-teman. Untuk kali ini sama
teman-teman jalan pelan-pelan sambil menikmati pemandangan dan tetep kostum
kita memakai jas hujan. Khawatir nanti pas di atas kondisi hujan, karena cuaca
memang masih mendung meski hari sudah siang.
Ada
salah satu temen yang ingin foto bersama bule. Karena dia tidak pede memakai
bahasa Inggris,akhirnya meminta bantuan saya. Saat ada bule yang lewat turun,
sedangkan kita posisi masih mau mendaki saya sapa.”Excusme Sir” I want photo
(sambil saya menggerakan tangan untuk isyarat). “Ok” jawab bule. Langsung deh
teman saya mengambil posisi di tengah-tengah bule (karena kebetulan ada 2 orang
bule) untuk di ambil gambarnya. Setelah saya ambil 2-3 gambar, saya ucapkan”
tank you sir”. Dia langsung senyum-senyum kegirangan karena berhasil foto
dengan bule. Waktu” giliran saya yang
pengen foto sama bule, ketika ada bule lewat saya sapa untuk minta foto “ no
no” jawab bule. Hmm betapa melasnya saya, mungkin bulenya capek sudah naik dan
turun akhirnya tidak mau ketika di minta foto (he..he..saya meredam hati).
Kami
satu rombongan sudah pisah jalan sendiri-sendiri, saya bersama teman saya jalan
pelan-pelan dan berhenti sebentar klo capek terus lanjut lagi jalan. Rasanya
pengen nyerah naik kuda terasa sudah capek, karena semakin mendekati puncak
harga naik kuda jadi turun. Dari Rp. 20.000,- semakin ke atas mendekati puncak
bisa jadi Rp. 10.000,-. Dua teman saya sudah nyerah dan memilih naik kuda,
meskipun untuk mencapai puncak tinggal sedikit. Tapi teman saya menyemangati
ayo pelan-pelan yang penting sampai. Meskipun posisi sudah agak atas, ternyata
ada penjual minuman hangat dan gorengan. Semakin ke atas angin semakin kencang,
sempat juga ada penjual yang barang dagangannya berantakan terkena angin.
Alhamdullillah,
akhirnya berhasil juga naik ke atas tanpa naik kuda. Ketika mau menaiki tangga
menuju ke kawah Bromo, tangganya banyak yang
rusak. Beda sekali dengan waktu pertama saya ke sini. Karena sempat
terjadi banjir lumpur dan menghancurkan sebagian tangga-tangga. Untuk naik ke tangga harus pelan-pelan karena
kondisi tubuh sudah lemah dan harus antri. Ketika sudah posisi di atas,
kondisinya juga sudah berubah. Di atas sangat sempit sekali, jadi harus
berhimpitan dengan pendaki lain untuk bisa duduk mengistirahatkan badan. Tapi
ngeri juga karena sangat sempit, tidak bayangin
misal terjadi gempa mungkin sudah runtuh tanahnya.
Karena
kondisinya tidak memungkinkan berlama-lama di atas, akhirnya kita memutuskan
turun setelah ada beberapa foto yang kita ambil. Kita mulai turun pelan-pelan
dan sempat berhenti untuk makan roti sebagai tenaga. Pengennya sih naik kuda biar tidak capek,
tapi teman saya tidak mau akhirnya kita turun pelan-pelan. Ketika sudah posisi
di bawah dan puas untuk foto,kita naik mobil hartop lagi untuk menuju parkiran
mobil yang kita tumpangi.
Karena
kondisi sudah sangat capek dan kamar mandi terbatas kita memutuskan untuk mandi
di luar area bromo. Ketika di dalam mobil temen-temen pada tidur semua, padahal
posisi badan masih kotor, apalagi kaki karena terkena becek dan lumpur. Kita
berhenti di sebuah Masjid di daerah Pasuruan sekitar pukul 11.00. Kita bisa
mandi sepuanya dan Shalat Dhuhur sekalian. Alhamdulillah badan sudah bersih dan
kita melanjutkan perjalanan untuk pulang melalui Malang. Dan sempat berhenti di
Dewi Sri untuk cari oleh-oleh dan makan
siang.
Alhamdulillah
sampai Kediri sekitar pukul 17.30. Tapi perjuangan saya belum selesai karena
kondisi sepeda motor yang bocor harus di tambal dulu. Alhamdulillah di sekitar
tempat ngumpul ada tukang tambal ban terdekat. Akhirnya sepeda motor saya
titipkan untuk di tambal kemudian saya kembali ke tempat ngumpul teman-teman
untuk Shalat Magrib. Baru setelah selesai Shalat ban selesai di tambal.
Alhamdullillah akhirnya pulang selamat sampai rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar