Selasa, 16 Desember 2014

MENEMBUS BROMO DENGAN HUJAN




Traveling merupakan hal yang paling menyenangkan, karena bisa melupakan sejenak semua masalah yang ada.  Untuk traveling kali ini merupakan perjuangan tersendiri dari mau berangkat sampai ke lokasi tujuan. Aku adalah tipe orang yang suka pergi kemanapun, tapi nakalnya jarang aku cerita langsung ke ibu tempat mana yang akan menjadi tujuan traveling ku..he..he..Maklum ibuku pasti tidak akan mengijinkan klo tempat yang dikunjungi agak ekstrim dan bahaya.
Untuk traveling kali ini janjian sama temen-temen kumpulnya malam pukul 18.30. Dan rumahku menuju tempat kumpulnya lumayan jauh butuh waktu 30 menit an.  Saat itu suasana lagi hujan juga, pastinya klo ijin mo pergi ke Bromo di jamin tidak bakal dapat ijin. Aku sudah siap dengan ransel dan pakaian rapi. Tinggal nunggu ibu untuk minta ijin pergi. Waktu mau berangkat ibu belum selesai Shalat Magrib Jama’ah bersama bapak di kamar. Aku  nunggu sampil berharap cemas karena sudah pukul 18.30 an posisi masih di rumah. Padahal kesepakatan kumpul pukul 18.30. Pas ibu keluar langsung kucium tanganya dan bilang “bu aku pergi ni tidak pulang, pulangnya besok sore mungkin” he.. he ..tanpa kujelaskan mau pergi kemana. Langsung deh berangkat
Ternyata hujannya lumayan lebat, jadi deh aku heboh dengan ransel ku gimana caranya biar tidak basah. Klo badan sih dah pake mantel aman. Hmm ni ransel klo di taruh di punggung trus langsung pake mantel tidak bakalan cukup,karena rensel ku lumayan banyak barang bawaanya. Hampir 10 menit an cari cara gimana biar ransel tidak basah. Alhamdullillah ada tas plastik lumayan besar punya adek yang masih bertengger di sepeda motornya, karena keliatannya dia juga baru kehujanan. Langsung aja kuambil dan ransel berhasil kumasukkan.
Hujannya ternyata lumayan lebat mulai dari rumah sampai ke lokasi kumpul sama teman-teman hujan terus. Dan malangnya sepeda motor ku keliatannya ada masalah di ban motornya. Karena sehari sebelumnya bannya ada masalah, udah di periksa di tukang tambal ban katanya tidak ada masalah. Padahal sempat di bongkar juga bannya. Dalam hati cuma satu keinginanku saat itu, tiba di lokasi dengan selamat.  Aku kendarai motorku dengan pelan-pelan, karena hujan lumayan deras juga. Perasaan udah tidak nyaman, tapi klo aku berhenti ke tukang tambal ban untuk memeriksa, waktu sudah tidak cukup untuk bisa on time tiba di lokasi. Berangkat dari rumah aja tadi sudah terlambat.
Keliatannya kondisi ban sepeda motor ku sudah lumayan parah, jadi tidak berani ngebut. Waktu sudah hampir dekat di lokasi motorku mulai tidak seimbang karena keliatannya kondisi bannya udah lumayan parah. Sebenarnya sebelumnya janjian mau jemput teman dan sekalian nitip motor. Tapi karena kondisi sudah tidak memungkinkan aku langsung menuju tempat kumpul saja. Alhamdulillah, akhirnya sampai di tempat dengan selamat dan kondisi ban sepeda motorku dah bocor parah. Langsung ku sms temanku bahwa aku tidak jadi ke rumahnya karena ban sepeda motorku bocor.
Waktu datang pukul 19.00 sudah telat banget, ternyata masih sedikit teman-teman yang kumpul. Maklum hari itu hujan lumayan lebat, jadi teman-teman banyak yang terlambat.  Tidak beberapa lama akhirnya teman-teman datang satu persatu. Karena mobilnya belum datang,  jadi sambil nunggu teman-teman pada Shalat Isya karena tadi aku juga belum Shalat Isya.
Alhamdulillah, akhirnya mobil datang dan barang-barang di masukkan ke dalam mobil. Barang bawaannya macam-macam ada termos air hangat juga dan pastinya masing-masing bawa ransel yang berisi barang keperluan pribadi. Karena panitia salah hitung peserta yang ikut, akhirnya ada 2 kursi yang di duduki untuk 3 orang. Mau gimana lagi sudah pada kumpul tidak mungkin di batalkan kasihan. Akhirnya aku rela sama 3 temenku ,2 kursi di duduki untuk 3 orang. Aku kasihan juga pada temanku, karena ternyata dia kondisinya lagi tidak enak badan dan harus duduk berhimpitan.
Sebelum berangkat semua berdoa semoga perjalanan lancar dan selamat sampai tujuan. Sekitar pukul 21.00 kami mulai berangkat dan kondisi masih hujan. Baru kali ini mau mendaki (hiking) tapi kondisi hujan. Sepanjang perjalanan kondisi masih tetap hujan dan hawa dingin mulai merasuk ke tulang-tulang, karena ternyata sudah masuk area perkampungan menuju ke bromo. Sekitar pukul 03.00 kami semua tiba dengan selamat. Karena kondisi masih sangat pagi kita tidur dulu di dalam mobil sambil nunggu temen-temen nego  harga hartop. Karena mobil tidak bisa naik langsung ke bromo, kita harus sewa hartop untuk bisa menuju ke bromo.
Untuk ikut rombongan traveling ini peserta cukup bayar Rp. 75.000,-/orang lumayan murah. Karena panitia tidak memperkirakan memakai hartop untuk menuju bromo, jadi kita harus iuran lagi Rp. 50.000,-/orang untuk sewa hartop. Kita sewa 2 (dua) hartop karena tidak cukup kalo pake 1 (satu) hartop.
Udara dingin sekali, karena sudah memasuki area menuju Bromo.  Jangan di tanya gimana dinginnya air kamar mandi. Sebelum perjalanan di mulai menuju pendakian temen-teman ke kamar mandi dulu. Klo mau ke kamar mandi cukup bayar Rp. 2000,-/ orang.
Karena jumlah peserta banyak sekitar 16 orang, mobil hartop di bagi dua, untuk laki-laki dan perempuan. Kami mulai mencari posisi yang nyaman untuk duduk. Karena cuaca tidak menentu dan cenderung hujan, akhirnya kami memutuskan bawa mantel (jas hujan) untuk persiapan jika nanti hujan saat pendakian. Pertama yang kita kunjungi ‘penanjakan’ baru ke kawah bromo selanjutnya. Mobil Hartop mulai berjalan menuju penanjakan dengan jalan yang berkelok-kelok. Karena suasana masih pagi buta sekitar pukul 04.00, sehingga kami tidak bisa melihat jelas kanan-kiri jalan.
Mobil hartop mulai berhenti untuk parkir, karena tidak mungkin lagi menuju ke atas. Karena di luar hujan teman-teman masih agak malas untuk turun. Sehingga kami memutuskan untuk Shalat Subuh berjama’ah dulu di dalam mobil dengan tayamum sebelum mulai pendakian. Setelah selesai Shalat kami semua turun satu persatu dengan memakai jas hujan, karena di luar kondisi hujan.
Baru kali ini mendaki gunung kondisi hujan dan kita semua harus memakai mantel. Bisa buat pangalaman klo mau traveling mendaki gunung (hiking) lihat kondisi alam. Karena klo hujan jadi tidak nyaman dan rawan untuk mendaki. Kami jalan bersama rombongan dengan pelan-pelan, karena kondisi jalan becek dan licin.  Subhanallah baru jalan berapa langkah saja rasanya saya sudah tidak bisa nafas (sesak).  Akhirnya saya berhenti sejenak dan jalan pelan-pelan untuk melanjutkan pendakian. Saya pikir saya saja yang merasa sesak nafas, ternyata ada juga teman yang sesak. Mungkin karena dinginnya udara dan semakin tinggi oksigen semakin tipis. Sehingga menyebabkan sesak nafas. Baru jalan beberapa langkah teman teriak “hei berhenti” pelan-palan jalannya. He..he.. kapan sampainya baru dapat 2-4 langkah berhenti. 
Karena kondisi jalan masih gelap dan hujan kita tidak bisa melihat dan menikmati pemandangan sekitar. Ketika sudah berada di posisi agak atas dan hari sudah mulai terang, mulai terlihat pemandangan di kanan-kiri. Mulai dah narsisnya cepret sana cepret sini untuk mengabadikan gambar. Tujuan pertama kita di penanjakan untuk melihat matahari terbit (sunrise), t karena hujan tidak terlihat matahari sama sekali. Katanya klo sudah mendung dan hujan sampai jam 12 siang pun matahari tidak akan muncul. Traveling ke bromo kali ini merupakan kunjungan ke-2 saya. Waktu yang pertama tidak sempat ke penanjakan, langsung ke kawah bromonya. Makanya untuk kali ini pengen naik sampai atas. Tapi karena teman-teman sudah merasa capek dan yang di lihat sama aja pemandangannya, akhirnya semua memutuskan turun kembali. Hmm sebenarnya agak nyesel juga karena tidak menyelesaikan pendakian sampai selesai.
Kami semua memutuskan untuk kembali ke mobil menuju ke kawah bromo. Hari sudah mulai terang jadi terlihat pemandangan kanan kiri jalan. Ternyata hampir semua  mata pencaharian penduduk sekitar bromo adalah pentani sayur. Ketika sudah tiba di tempat parkiran mobil harus di parkir. Subhanallah pemandangannya sungguh indah, terbentang luas padang pasir, gunung dan bukit. Sebelum memutuskan untuk naik ke kawah bromo, kita mengisi bahan bakar dulu untuk tenaga alias “sarapan”, yang di bawa panitia dari Kediri. Setelah selesai sarapan kita turun dan menikmati pemandangan padang pasir yang terbentang luas. Sebetulnya hujan ada hikmahnya juga jadi pasirnya basah sehingga tidak begitu ada banyak debu. Tapi meskipun pasirnya basah, waktu di terjang angin masih berhampuran juga pasirnya. Jadi ketika ada angin yang kencang kita berhenti sejenak dan menutup mata biar tidak terkena debu pasir.
Bener-bener indah dan keren pemandanganya, sepanjang perjalanan terlihat semua pemandangan dan bentuk asli jalan yang berkelok-kelok menuju kawah bromo. Waktu pendakian saya yang pertama jalan tidak terlihat sama sekali karena kondisi masih gelap. Klo yang ini terlihat jelas kelokan jalan yang harus kita lalui untuk menuju puncak atas kawah bromo.
Alhamdulillah selama pendakian masih menggunakan tenaga alami (jalan kaki) belum menggunakan bantuan kuda untuk mendaki. Karena waktu pendakian pertama memutuskan untuk naik kuda setelah jalan 10 menit an. Setelah turun dari kuda mau pingsan juga karena kaki seperti terkilir, jadi bikin heboh teman-teman. Untuk kali ini sama teman-teman jalan pelan-pelan sambil menikmati pemandangan dan tetep kostum kita memakai jas hujan. Khawatir nanti pas di atas kondisi hujan, karena cuaca memang masih mendung meski hari sudah siang.
Ada salah satu temen yang ingin foto bersama bule. Karena dia tidak pede memakai bahasa Inggris,akhirnya meminta bantuan saya. Saat ada bule yang lewat turun, sedangkan kita posisi masih mau mendaki saya sapa.”Excusme Sir” I want photo (sambil saya menggerakan tangan untuk isyarat). “Ok” jawab bule. Langsung deh teman saya mengambil posisi di tengah-tengah bule (karena kebetulan ada 2 orang bule) untuk di ambil gambarnya. Setelah saya ambil 2-3 gambar, saya ucapkan” tank you sir”. Dia langsung senyum-senyum kegirangan karena berhasil foto dengan bule. Waktu”  giliran saya yang pengen foto sama bule, ketika ada bule lewat saya sapa untuk minta foto “ no no” jawab bule. Hmm betapa melasnya saya, mungkin bulenya capek sudah naik dan turun akhirnya tidak mau ketika di minta foto (he..he..saya meredam hati).
Kami satu rombongan sudah pisah jalan sendiri-sendiri, saya bersama teman saya jalan pelan-pelan dan berhenti sebentar klo capek terus lanjut lagi jalan. Rasanya pengen nyerah naik kuda terasa sudah capek, karena semakin mendekati puncak harga naik kuda jadi turun. Dari Rp. 20.000,- semakin ke atas mendekati puncak bisa jadi Rp. 10.000,-. Dua teman saya sudah nyerah dan memilih naik kuda, meskipun untuk mencapai puncak tinggal sedikit. Tapi teman saya menyemangati ayo pelan-pelan yang penting sampai. Meskipun posisi sudah agak atas, ternyata ada penjual minuman hangat dan gorengan. Semakin ke atas angin semakin kencang, sempat juga ada penjual yang barang dagangannya berantakan terkena angin.
Alhamdullillah, akhirnya berhasil juga naik ke atas tanpa naik kuda. Ketika mau menaiki tangga menuju ke kawah Bromo, tangganya banyak yang  rusak. Beda sekali dengan waktu pertama saya ke sini. Karena sempat terjadi banjir lumpur dan menghancurkan sebagian tangga-tangga.  Untuk naik ke tangga harus pelan-pelan karena kondisi tubuh sudah lemah dan harus antri. Ketika sudah posisi di atas, kondisinya juga sudah berubah. Di atas sangat sempit sekali, jadi harus berhimpitan dengan pendaki lain untuk bisa duduk mengistirahatkan badan. Tapi ngeri juga karena sangat sempit, tidak bayangin  misal terjadi gempa mungkin sudah runtuh tanahnya.
Karena kondisinya tidak memungkinkan berlama-lama di atas, akhirnya kita memutuskan turun setelah ada beberapa foto yang kita ambil. Kita mulai turun pelan-pelan dan sempat berhenti untuk makan roti sebagai tenaga.  Pengennya sih naik kuda biar tidak capek, tapi teman saya tidak mau akhirnya kita turun pelan-pelan. Ketika sudah posisi di bawah dan puas untuk foto,kita naik mobil hartop lagi untuk menuju parkiran mobil yang kita tumpangi.
Karena kondisi sudah sangat capek dan kamar mandi terbatas kita memutuskan untuk mandi di luar area bromo. Ketika di dalam mobil temen-temen pada tidur semua, padahal posisi badan masih kotor, apalagi kaki karena terkena becek dan lumpur. Kita berhenti di sebuah Masjid di daerah Pasuruan sekitar pukul 11.00. Kita bisa mandi sepuanya dan Shalat Dhuhur sekalian. Alhamdulillah badan sudah bersih dan kita melanjutkan perjalanan untuk pulang melalui Malang. Dan sempat berhenti di Dewi Sri  untuk cari oleh-oleh dan makan siang.
Alhamdulillah sampai Kediri sekitar pukul 17.30. Tapi perjuangan saya belum selesai karena kondisi sepeda motor yang bocor harus di tambal dulu. Alhamdulillah di sekitar tempat ngumpul ada tukang tambal ban terdekat. Akhirnya sepeda motor saya titipkan untuk di tambal kemudian saya kembali ke tempat ngumpul teman-teman untuk Shalat Magrib. Baru setelah selesai Shalat ban selesai di tambal. Alhamdullillah akhirnya pulang selamat sampai rumah.

 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar